Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB dengan tinggi 1,605 meter. Sementara yang terendah tercatat di Bakalang, Alor, NTT, pada pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter.
Berdasarkan pemantauan sementara dan informasi di lapangan, gempa M7,7 Flores menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 lainnya mengalami luka-luka. Gempa juga mengakibatkan kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, dan Maumere.
“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” tuturnya.
Survei tersebut dilakukan untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana. Hasilnya juga akan menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman.
Wilayah dengan kerusakan sedang hingga berat menjadi prioritas survei dan akan dibandingkan dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan.
BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan pemahaman mengenai kondisi pascagempa. Masyarakat diimbau menghindari bangunan yang retak atau rusak serta tetap mewaspadai gempa susulan.
“BMKG akan terus memantau aktivitas gempa bumi susulan dan menyampaikan pemutakhiran informasi secara berkala kepada stakeholder dan masyarakat. Maka dari itu, masyarakat diimbau untuk memperbarui informasi resmi BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” ujarnya.
Editor : Stefanus Dile Payong
Artikel Terkait
